Sabtu, 17 Oktober 2015

FF Boyfriend My Lady

"My Lady" *aku ganti judul nya ^^
Chapter 2

*Cast
-Jo KwangMin
-Jo HyunMin
-No Minwoo
-Kim Donghyun
-Lee Jeongmin
-Shin Hyunseong
-Jung Hyo Bin

Rating = enggak tau :v
Genre = Comedy,Romance,           Konflik.

"My Lady"
Chapter 2 -YOU-

Tuhan mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mempertemukan kebahagiaan manusia. Di tata dengan hati-hati dan akan menjadi akhir yang indah. Selalu berpikir positif, karena yang menurut mu buruk, adalah jalan menuju kebahagiaan mu..

"Apa rumah sakit?". KwangMin yang sedang duduk santai di kamar nya terkejut dan segera berdiri, mendengar kabar bahwa Ayah nya di rumah sakit.

"Baiklah aku akan segera kesana". KwangMin segera mengakhiri telpon nya dan segera ke rumah sakit bersama HyunMin dan ibu nya.

.....

Seoul Hospital, Seoul, korea selatan

Dokter yang menangani pria itu keluar, Hyo Bin segera menghampiri dokter itu.

"Dokter bagaimana keadaan nya..". Tanya Hyo Bin.

"Dia serangan jantung, akibat kecelakaan itu, tangan kiri nya patah. Untuk saat ini pasien mengalami koma, kemungkinan dia koma sekitar 2 sampai 3 hari.".

"Ya Tuhan, kasihan sekali dia".

"Banyak berdoa saja..".

Keluarga pria itu datang, dan segera menanyakan kondisi pria itu.

"Dokter bagaimana keadaan Appa saya". Ucap KwangMin.

"iya dokter bagaimana keadaan suami saya.." Tanya Oemma KwangMin sambil menangis.

Hyo Bin terkejut melihat KwangMin, dan segera menutup wajah nya dengan tangan nya.

"Apa kau yang membawa Appa ku kemari?". Tanya HyunMin.

"I,i, iya..". Jawab Hyo Bin gugup.

"Terimakasih telah membawa Appa ku kemari". Ucap HyunMin tersenyum.

"Nde Cheonma...". Jawab Hyo Bin gugup. "Aku pergi dulu..". Tanpa menunggu jawaban ` iya` dari HyunMin, Hyo Bin segera berlari pergi.

"YA! YA! Noona..". HyunMin berharap Hyo Bin berhenti, namun Hyo Bin tetap berlari hingga hilang dari pandangan HyunMin.

"Ada apa?". Tanya KwangMin, melihat HyunMin yang masih mengharapkan Hyo Bin muncul.

"Orang yang menolong Appa aneh sekali, dia seperti ketakutan". Jawab HyunMin.

"Mana orang nya?".

"Sudah pergi, baru saja".

***

Dua hari kemudian, Ayah KwangMin pun tersadar dari koma nya. Setelah di periksa lagi oleh dokter, keadaan Ayah KwangMin di nyatakan membaik.

"Suami ku, apa kau sekarang merasa baikan?". Tanya ibu KwangMin, yang tengah duduk di samping suami nya, KwangMin dan HyunMin pun sedang berdiri di belakang Ibu nya.

"Ah Ya, aku merasa baikan, apa yang terjadi pada ku?". Ucap Ayah KwangMin, masih lemas.

"Kau kecelakaan suami ku". Jawab ibu KwangMin.

"Oh ya, aku ingat seorang perempuan mengetuk ngetuk kaca mobil ku saat itu, apakah dia yang membawakan ku kesini?".

"Nde..". Jawab ibu KwangMin.

"Dimana dia? Aku berhutang budi pada nya, kalau tidak ada dia pasti aku terbakar hangus bersama mobil ku".

"Saat itu dia langsung pergi Appa". Kata HyunMin.

"Cari dia, aku ingin balas budi pada nya. Dia menyelamatkan nyawa ku".

"Sepertinya telpon Mu, terbawa oleh nya. Kita lacak saja tempat tinggal dia...". Usul KwangMin, dan di setujui oleh adik nya.

"Biar anak buah Appa saja yang mencari nya...". Ucap HyunMin.

***

"Jadi pria itu anak dari Ahjussi itu". Ucap Hyo Bin yang sedang memperhatikan Photo di ponsel milik ayah KwangMin, yang tak sengaja terbawa oleh nya.

Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang seperti sedang marah, sehingga ia menggedor-gedor pintu kontrakan Hyo Bin dengan kasar nya.

Hyo Bin segera menyudahi aktivitas melihat-lihat isi ponsel Ahjussi itu. Dan beranjak pergi membuka pintu yang sedari tadi di ketuk dengan kasar.

"Yak..Hyo Bin-ssi buka...!!". Teriak Seorang Ahjuma di luar, dengan sangat keras.

"Nde tunggu sebentar...". Sahut Hyo Bin segera membuka pintu, dan terlihat Ahjuma pemilik kontrakan  itu seperti tidak senang memandang wajah Hyo Bin. Ya Hyo Bin sudah biasa menerima tatap-tatapan sinis dari pemilik kontrakan-kontrakan yang sebelumnya ia tempati. Ia juga sudah tidak heran lagi, kenapa mereka melakukan hal itu pada nya. Ya Karena Hyo Bin sudah menunggak uang sewa kontrakan.

"Cepat kau keluar dari kontraKan ku!". Kata Ahjuma itu, dengan nada sinis nya dan pasti tidak enak di dengar, dan bikin kuping panas.

"Tapi baru 3 hari yang lalu aku membayar uang sewa nya, kenapa kau mengusir ku?". Ujar Hyo Bin heran, ia baru saja membayar tunggakan sewa nya 3 hari yang lalu, ya walaupun hanya separuh dari hutang nya. Tapi setidaknya dia membayar `kan.

"Aku tidak perduli,di sana masih banyak orang yang membutuhkan sewa rumah yang bisa membayar tepat waktu". Ucap Ahjuma itu kemudian masuk, dan segera mengemasi barang-barang Hyo Bin yang hanya memerlukan satu buah tas berukuran sedang, yang hanya berisi pakaian dan beberapa barang kenangan dari keluarga nya seperti photo.

Hyo Bin membiarkan Ahjuma itu masuk dan mengemasi barang nya, Tak lama Ahjuma itu datang dengan membawa barang-barang Hyo Bin. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh mungkin dua langkah dari bibir pintu tepat di wanita paruh baya itu berdiri. Ia melemparkan tas Hyo Bin, dan dengan cekatan Hyo Bin menangkap nya.

Ahjuma itu menatap sekilas Hyo Bin sebelum ia masuk dan menutup pintu nya. Hyo Bin pun menatap rumah tempat ia berteduh dengan tatapan sedih. Ia mengembuskan napas berat nya, berusaha tetap tegar untuk melanjutkan hidup nya.

Hyo Bin menghembuskan napas berat nya, kemudian mengkalung kan tas nya di kedua bahu nya.
"FIGHTING!". Ujar Hyo Bin terdengar lemas sambil mengangkat tangan nya yang sudah ia kepal.

"FIGHTING..FIGHTING..FIGHTING..!". Hyo Bin berusaha menguat kan diri nya, dengan cara mengulang kalimat itu sebagai penyemangat hidup nya. Hyo Bin kembali mengembuskan napas nya sebelum ia benar-benar pergi, walaupun ia bingung harus pergi kemana. Ia pun berusaha menarik bibir nya ke samping, berusaha untuk tersenyum. Karena menurut nya senyum itu sesuatu hal yang bisa meringankan beban hidup nya ini.

Sekilas menatap rumah nya, kemudian segera melangkah kan kaki nya tanpa tujuan. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan rumah, sebuah mobil berhenti di depan nya. Hyo Bin berhenti berjalan memperhatikan mobil yang berhenti di depan nya itu. Terlihat 2 orang berjasa hitam menghampiri nya, membuat Hyo Bin mengkerut kan alis nya bingung.

"Permisi, apakan anda Nona Jung Hyo Bin yang menolong Tuan Jo dari kecelakaan saat itu?". Tanya salah satu orang berjasa hitam itu, yang kini tengah berdiri di hadapan Hyo Bin.

"Y-ye..". Jawab Hyo Bin ragu.

"Tuan Jo ingin bertemu dengan Anda, bersedia kah Nona ikut bersama kami?".

Hyo Bin berpikir sejenak, apa yang akan di lakukan oleh tuan Jo, sehingga ingin bertemu dengan nya. "Baik lah..". Jawab Hyo Bin, bukan apa-apa dia juga merasa kawatir ketika melihat Tuan Jo bersimbah darah saat itu. Ia hanya ingin tahu keadaan Tuan Jo, karena ia juga merasa kalau Tuan Jo yang berlumuran darah itu, memiliki kejadian yang sama persis dengan Ayah nya dulu yang kecelakaan mobil, tapi beruntung nya Tuan Jo tidak seperti Ayah nya dulu.

.........

Pintu terbuka, terlihat Hyo Bin memasuki ruangan tempat Tuan Jo di rawat.

"Permisi Selamat Pagi..". Sapa Hyo Bin masih di bibir pintu, Lalu ia sedikit membungkukkan badan nya, memberikan hormat kepada semoga orang yang berada di ruangan itu. Tatapan Hyo Bin sedikit berbeda untuk Anak Tuan Jo yang bernama KwangMin. Ia terlihat sedikit kaku melihat KwangMin, takut-takut ia mengingat dirinya yang telah mencopet ponsel nya, dan akhirnya KwangMin berteriak `copet` di rumah sakit ini. Itu hal yang sangat ia khawatir kan, tapi sepertinya KwangMin biasa-biasa saja seperti tidak ingat apa-apa ketika melihat Hyo Bin.

"Selamat pagi Nona, Masuk lah..". Ujar Tuan Jo yang sedang duduk bersender pada sebuah bantal.

Hyo Bin sedikit mengangguk kan kepala nya, sebelum ia melangkah kan kaki nya memasuki ruangan itu.

"Annyeong Tuan, bagaimana kabar Anda?". Ucap Hyo Bin setelah berada dekat dengan sosok Tuan Jo.

Tuan Jo sedikit tersenyum, dan menampilkan ekspresi wajah yang ramah pada Hyo Bin.
"Aku semakin membaik, terimakasih telah menolong ku saat itu".

"Ah Nde..Sudah kewajiban kita sebagai manusia yang tolong menolong". Balas Hyo Bin sedikit tersipu. Tapi hati nya sedikit tersindir oleh kalimat yang baru saja ia katakan `Sudah kewajiban kita sebagai manusia yang tolong menolong` saling menolong? Bahkan ia pun seorang pencopet yang menyusahkan orang yang menjadi korban nya.

"Ah Ye. Tapi aku tidak mau mempunyai hutang budi pada siapa pun. Katakan apa mau mu?".

"Kau tidak perlu melakukan itu". Hati ny sedikit berat mengatakan itu, ia bisa-bisa berbicara seperti itu, di saat dirinya sedang sangat kesusahan, entahlah Hyo Bin pencopet yang membingungkan.. Ia rakus atau tidak?

"Jangan menolak apa yang aku tawarkan, karena tawaran ini tidak akan datang lagi di dalam hidup mu. Cepat katakan apa yang kamu butuh kan?". Nada Tuan Jo sedikit tegas, dan tersirat bahwa ia memaksa Hyo Bin untuk meminta sesuatu pada nya, HARUS!!.

"Nona katakan saja, jika kau menolak. Itu artinya kau telah merendahkan Tuan Jo ". Ujar sekretaris nya yang berada di samping nya  sedikit berbisik.

Hyo Bin diam lalu berpikir,.untuk saat ini ia membutuhkan tempat tinggal dan pekerjaan, tapi ia lebih membutuhkan pekerjaan untuk menghasilkan uang tanpa henti.

"Emmmm sebenarnya aku membutuhkan pekerjaan juga tempat tinggal". Ujar Hyo yang sedikit sungkan mengucapkan nya.

"Hanya itu? Bahkan itu tidak mengurangi harta kekayaan ku sedikit pun juga". Sahut Tuan Jo sedikit terkeh, namun kekehan nya itu justru terlihat sedikit sombong.

"Sebenarnya tidak ada lowongan kerja sama sekali untuk mu. Tapi mungkin aku butuh kamu untuk menemani Kedua anak ku, dan mengawasi mereka di sekolah. Karena aku terlalu sibuk untuk mengawasi mereka secara langsung. Dan anak buah ku juga tidak mungkin mengawasi mereka sampai ke dalam kelas..".

"Jadi pekerjaan ku semacam Baby sitter?".

Seketika KwangMin dan HyunMin saling menatap. Apa ini? Baby sitter? Mereka bukan bayi lagi bukan? Tapi mereka hanya diam tak mau angkat bicara untuk protes.

"Ya bisa di bilang begitu, bagaimana kau setuju? Untuk itu

"Tapi kau juga harus sekolah".

"Sekolah?". Hyo Bin mengulang kata itu tidak percaya.

"Ya, kau tidak ingin bersekolah untuk merubah kehidupan mu? Apa kau ingin selalu menjadi baby sitter nya Anak ku?"

Hyo Bin menggeleng mengisyaratkan bahwa ia tidak mau seperti itu selama nya, karena ada kala nya mereka pasti dewasa, dan tidak mungkin Hyo Bin mengawasi mereka terus bukan?

"Tapi tentu saja ada syarat nya. kau harus menggunakan otak mu, kau mengikuti tes untuk beasiswa".

"Beasiswa?".
Bagaimana dia mengikuti tes beasiswa? Sedangkan otak nya sudah lama ia tidak pergunakan nya untuk belajar, bahkan mungkin sekarang tulisan dia sudah sangat jelek, ia sudah putus sekolah selama 4 bulan, tentu saja otak nya sudah beku untuk mengingat kembali pelajaran nya.

"Nde, bagaimana kau setuju?".

Hyo Bin tampak berfikir sebentar, kemudian ia mengangguk kan kepala nya.

***

Jung Hyo Bin pulang bersama keluarga Tuan Jo, saat mobil memasuki halaman rumah Tuan Jo. Seketika itu Hyo Bin melebar kan mata nya, melihat rumah yang seperti istana itu. Begitu besar dan mewah, Hyo Bin yakin di rumah itu ada 100 lebih pembantu yang membersihkan rumah sebesar itu..Gila!

Melihat halaman dan rumah Tuan Jo dari luar saja ia sudah terkejut kagum dan mulut menganga tanpa henti. Sekarang ia sedang berjalan menuju pintu, dan saat pintu di buka, Hyo Bin terpaku di bibir pintu. Mata nya semakin lebar dan mulut nya menganga semakin lebar. Dan tanpa sadar ia mengucapkan kalimat "Wow" dengan nada penuh ke kekaguman. Ia baru kali ini memasuki rumah yang begitu besar dan mewah, barang barang nya yang terlihat mahal. Lantai yang begitu mulus dan bersih, dan terlihat beberapa pembantu sedang bekerja juga.

"Kau tak ingin masuk?". KwangMin membuyarkan kekaguman Hyo Bin yang sedang menatap ke sekeliling rumah Tuan Jo.

"Ah? Ne aku masuk". Jawab Hyo Bin kemudian berjalan mengikuti KwangMin ke sebuah ruangan yang akan ia tempati.

"Ini ruangan mu". KwangMin menunjukkan ruangan Hyo Bin, Hyo Bin sedikit membungkuk.

"Kau beresekan ruangan ini dan barang barang mu. Setelah itu temui aku di kamar ku". Setelah mengucapkan kalimat itu, KwangMin segera pergi.

"Seperti nya memang dia tidak ingat aku". Gumam Hyo Bin, kemudian membuka pintu nya, dan masuk ke ruangan nya.

"Hmmm ruangan nya lumayan besar, tak apa yang penting aku dapat tinggal gratis disini. Semangat!". Hyo Bin segera merapihkan ruang nya, dan mengalihkan barang-barang nya.

Setelah itu Hyo Bin pergi ke kamar KwangMin dan HyunMin. Saat ia memasuki kamar KwangMin. Hyo Bin kembali di kejut kan dengan barang barang mewah, dan kamar yang luas sekali. Kamar itu bahkan lebih besar dari rumah nya dulu.

"Kau sudah selesai merapihkan barang-barang mu?". Tanya KwangMin saat Hyo Bin berjalan mendekati nya dengan mata yang berbinar melihat kamar nya.

"Ne! ".

"Baiklah aku akan memberi tau apa saja tugas mu, aku tidak akan mengulang nya lagi. Jadi, dengarkan baik-baik". Ujar KwangMin serius.

"Kau siap?". Tanya KwangMin.

"Ah tunggu!". Hyo Bin mengeluarkan Ponsel nya, dan mempergunakan nya untuk merekam ucapan KwangMin.

Hyo Bin sudah siap dengan ponsel nya, KwangMin sedikit tertawa melihat tingkah konyol Hyo Bin. Kemudian mulai berbicara.

"Tugas mu harus menyiapkan keperluan sekolah, menyiapkan seragam ku, sepatu, buku. Aku bangun jam setengah enam. Dan kau harus sudah bangun sebelum aku bangun. Segitu dulu tugas mu, jika ada yang aku butuhkan lagi aku akan memanggil mu. Oya ayah ku memerintahkan mu untuk pergi ke ruangan ny segera".

"Ah Ya baik tuan". Jawab Hyo Bin segera mematikan alat perekam di ponsel nya.

"Aku permisi".

.....

"Mwo? Besok aku sudah mulai sekolah Tuan?". Hyo Bin sedikit terkejut mendengar kabar bahwa ia besok sudah mulai bersekolah. Apa ini tidak salah? Yang tuan Jo katakan Hyo Bin bersekolah dengan beasiswa, dan itu harus mengikuti tes. Dan Hyo Bin belum siap untuk tes nya, karena otak nya sudah lupa dengan pelajaran.

"Nde".jawab tuan Jo singkat.

"Ta..tapi saya belum siap untuk mengikuti tes nya".

"Oh soal itu, aku sudah memikirkan nya. Aku tau, lama tidak bersekolah pasti pelajaran yang kau pelajari sudah lupa. Maka dari itu saya memberi mu waktu selama satu bulan untuk mempelajari pelajaran nya. Setelah itu baru kau ikuti persyaratan beasiswa nya. Yaitu tes".

***

Hyo Bin sudah lengkap memakai seragam sekolah. Dan sekarang ia sedang menyiapkan keperluan KwangMin dan HyunMin. KwangMin sedang mengancingkan kemeja nya di depan cermin. Ia mengkerut alis nya, melihat baju nya sedikit kusut.

"Hyo Bin..". Panggil KwangMin, dan Hyo Bin segera berjalan mendekat.

"Nde?".

"Rapih kan seragam ku". Perintah KwangMin sembari melepaskan baju nya, dan hanya menyisakan kaus polos yang membalut tubuh nya. Kemudian menyerahkan kemeja nya pada Hyo Bin untuk di setrika.

Hyo Bin mengambil nya dan segera menyetrika baju KwangMin.

"Lama sekali..". Teriak KwangMin, dan Hyo Bin terlihat buru-buru menyelesaikan Menyetrika baju nya, Lalu segera memberikan baju nya pada KwangMin.

"Apa ini? Kau pikir ini sudah rapi? Kau malah membuat nya semakin kusut. ULANGI!". KwangMin kembali menyerahkan baju nya.

Hyo Bin sedikit kesal, tapi ia tetap sabar menghadapi majikan yang mulai membuat nya sebal.

"Yak lama sekali kau, cepat eoh!". KwangMin kembali meneriaki Hyo Bin agar segera menyelesaikan Seterikaan nya.

Hyo Bin mengusap keringat nya yang hampir jatuh dari dagu nya. Ia kembali berlari mendekati KwangMin dan memberikan Baju nya.

"Cah..Kau tidak tau mana baju yang sudah rapi?". KwangMin tampak sudah kesal pada Hyo Bin, dan Hyo Bin pun mulai sedikit emosi, rasanya ia ingin menelan majikan nya itu hidup-hidup. Menurutnya itu sudah cukup rapih. Tapi KwangMin masih belum puas, menyebalkan!.

"Cepat setrika lagi...". KwangMin kembali menyerahkan baju nya, dan Hyo Bin kembali ke tempat setrikaan, dan mulai menyetrika baju KwangMin dengan penuh emosi, ia menekan-nekan setrika nya. Berharap itu dapat merapihkan baju nya, yang memang sudah rapih.

"Hyo Bin-ssi Aku membutuhkan mu..". Panggil HyunMin, yang sedang memasang dasi si depan cermin.

"Nde, tunggu sebentar..". Hyo Bin segera menyelesaikan seterikaan nya, dan kembali menyerahkan baju nya pada KwangMin.

"Ini....". Hyo Bin memberikan baju nya.

"Tidak usah, aku pake kemeja yang lain saja". Ujar KwangMin, membuat Hyo Bin benar-benar di buat kesal. Hyo Bin hanya bisa mengeraskan rahang nya,Lalu meletakkan baju KwangMin dengan kesal di sofa yang saat ini di duduki KwangMin. Hyo Bin menahan emosi yang hampir meledak gara-gara majikan nya itu, mungkin kalau di serial animasi akan ada asap yang keluar melalui kedua telinga nya.

"Ini Tuan..". Pelayan lain datang setelah mengambilkan Kemeja dari lemari nya.

KwangMin mengambil kemeja yang di bawa pelayan lain, dan segera memakai nya.

"Hyo Bin-ssi..". Panggil HyunMin lagi, Hyo Bin yang sedang menatap kesal KwangMin, terperanjat. Ia lupa kalau HyunMin tadi memanggil nya. Hyo Bin segera berlari mendekati HyunMin.

"Nde? Apa yang kau butuhkan?".

HyunMin yang sudah selesai memakai kan dasi dan jas nya. Memutar kan badan nya menghadap Hyo Bin. "Tolong ambilkan sepatu ku di sana!". Ucap HyunMin sambil menunjuk ke arah yang ia maksud. Hyo Bin segera pergi mengambil sepatu HyunMin. Dan HyunMin berjalan mendekati sofa kemudian duduk.

Hyo Bin membuka pintu tempat HyunMin menaruh sepatu nya. Dan saat di buka, mata Hyo Bin melebar dan mulut nya menganga. Bagaimana tidak, di sana terdapat banyak sepatu yang masih mulus-mulus dan tentu nya mahal. Sekarang yang membuat nya bingung adalah, HyunMin mau pakai sepatu yang mana?? Hyo Bin memutarkan mata nya sambil meniup poni nya.
Dua anak orang kaya yang MENYEBALKAN

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar